Pemilihan umum hanya tinggal menghitung hari saja-gegap
gempita pertarungan politik diera multi partai ini nampaknya tidak mampu untuk menggoyang
indeks harga saham di Bursa Efek Jakarta untuk bergerak kearah trend yang lebih
positif. Padahal kita tahu bahwa di bursa-bursa saham, seperti di Wall Street, Tokyo
ataupun London sensitifitas perkembangan politik yang terjadi menjelang pemilu
sering dijadikan sebagai barometer untuk melakukan investasi. Goerge Bush atau Clinton
mampu untuk mendorong indeks di Wall Street sama kencangnya dengan perseteruan dua
kubu politik tersebut. Masih segar diingatan kita bahwa sikap dan opini publik terhadap
sebuah proses politik akan mendorong sebuah keputusan yang bernada positif yang mendorong
pembelian atau negatif yang berakibat penjualan di lantai bursa.
Rentang waktu pemilihan umum sudah tidak lama lagi,
analisa politik dan berbagai komentar baik yang datangnya dari pakar lokal maupun asing,
seperti Jerry Winter sampai Christianto Wibisono terus meneropong konstelasi
politik yang dapat terjadi setelah pemilihan umum. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah
prediksi dan analisa tersebut memiliki pengaruh terhadap keputusan para investor atau
tidak. Sungguh kita tidak berharap bahwa pemilu mendatang tidak menjadi awal sebuah
keruntuhan sendi-sendi bangsa ini dan hendaknya analisa-analisa yang pesimistis atau yang
berasal dari paranormal tidak terwujud.
Bila kita mencoba mengidentifikasikan beban dan bobot
informasi yang terus disuguhkan kepada masyarakat setiap hari memang terasa menekan ulu
hati dan memusingkan kepala. Sudahlah harga sembako yang terus membumbung dan terus
meningkatnya beban hidup yang harus ditanggung setiap saat-merupakan contoh yang kongkrit
tentang sejauh mana masyarakat diselimuti dengan kehidupan yang berat. Boleh jadi
masyarakat sudah tak mampu untuk membedakan mana informasi yang pantas untuk didengar dan
mana informasi yang hanya sekedar muslihat yang tujuannya untuk membakar hati mereka.
Maka wajarlah kiranya derajat informasi yang diserap
oleh pelaku pasar modal memang tidak menimbulkan dampak positif kepada pasar dan cendrung
pasar sudah tidak mempercayai lagi setiap informasi yang mereka terima akibat begitu
banyaknya kebohongan-kebohongan informasi yang berlangsung. Pasar harus senantiasa
bergelut dengan kesulitan, mulai dari pada kesulitan likuiditas, kesulitan dana, kesulitan
untuk dilindungi, kesulitan untuk mendapatkan informasi yang benar dan sederet kesulitan
lainnya.
Bagaimanapunjuga porsi informasi politik akan menjadi
menu sehari-hari menjelang pemilu mendatang. Sehingga pelaku pasar harus memiliki
kemampuan untuk mendefenisikan sekaligus mengkaji dengan tingkat kehatian-hatian yang
tinggi sehingga tidak salah eksekusi. Kesalahan dalam mengeksekusi pilihan-pilihan
informasi tersebut akan dapat berakibat fatal, yang dapat merugikan kepentingan investor
itu sendiri. Oleh sebab itu sangatlah wajar kiranya bila masa menjelang pemilihan umum ini
para investor tidak terlalu tergantung dengan informasi politik yang disuguhkan untuk
konsumsi masyarakat awam atau menjadi bagian dari sebuah kampanye politik semata.
Diperlukan pemahaman yang sangat mendalam untuk dapat
memprediksikan sejauh mana materi informasi tersebut memang relevan dan transparan serta
secara politis merupakan komitmen yang dapat dipegang. Komitmen politik yang ada harus
juga terkait dengan penerapan dari kebijaksanaan yang ada, dan akan lebih baik lagi bila
para penggagas dan koseptor program tersebut pasca pemilu akan memegang fungsi yang
menjadi motor penggerak kebijaksanaan.
Dengan penelusuran tersebut diatas maka wajah pasar
modal kita menjelang pemilihan umum ini, terkesan berwajah pucat-kurang darah-akibat sakit
yang terus menerus. Tentunya perumpamaan ini tak terlalu berlebihan bila terpaan badai
moneter yang selama ini terjadi telah membuat "kurus kering" transaksi
dilantai bursa. Untuk menggemukannya kembali diperlukan obat khusus yaitu modal yang
kembali mengalir dari kocek investor, yang tentunya percaya bahwa pasar modal telah dapat
memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum. Semoga