Perhatian
masyarakat saat ini terhadap sejumlah emiten bank yang terkena imbas atau menjadi tokoh
utama dari pergulatan politik di Indonesia semakin enak untuk disimak. Lihat saja
bagaimana Lippo Bank harus menjadi bagian dari sebuah cerita yang berkaitan dengan
kredibilitas dari sebuah sistem perbankan moderen. Trust, merupakan prinsip yang
menjadi pilar utama dari sebuah sistem perbankan, sehingga kalau prinisi tersebut
dilanggar maka bank tersebut akan segera kiamat, karena kepercayaan yang diberikan oleh
pemilik uang agar hak privatnya terlindungi sudah dilanggar. Prinisip inilah yang saat ini
sedang dipertaruhkan oleh Lippo Bank bila ternyata benar terdapat kebocoran ataupun
rekayasa terhadap rekening miliknya maka kredibilitas sebuah bank yang dapat dipercaya
dalam menjamin kerahasiaan nasabahnya menjadi pertanyaan besar. Sebagai bank publik
kepercayaan merupakan aset yang bersifat immaterial yang tidak dapat dinilai harganya
terutama yang berhubungan dengan usaha perseroan. Terlepas apakah bocornya rahasia
tersebut melalui lembaga lain, namun sebagai bank publik hendaknya mereka memberikan
penjelasan terhadap persoalan ini.
Nasib serupa nampaknya terkait dengan salah satu
bank publik, yaitu Bank Duta namun setelah beredar adanya rekening atas nama Adi Sasono,
yang saat ini adalah Menteri Koperasi-namun terdapat bantahan yang menyatakan bahwa
rekening tersebut adalah fiktif. Fenomena soal rekening ini menjadi sebuah persoalan yang
merusak kredibilitas perbankan di Indonesia, dimana validitas apakah sebuah rekening
tersebut memang merupakan rekening asli atau palsu, mengingat banyak faktor yang dapat
memanipulasi sumber informasi di negeri ini. Hal ini harus segera dihentikan bila kita
tidak ingin kepercayaan atas perbankan di Indonesia akan menjadi lebih terpuruk lagi.
Investor di lantai bursa menjadi panik ketika mereka
mengetahui bahwa Bank Bali menjadi Bank Take Over (BTO), ditengah-tengah proses
tersebut beredar informasi yang menyebutkan bahwa kegagalan dari masuknya investor asing
ke bank tersebut karena tidak ditemukan kesepakatan dalam proses due dilligence. Entah apa
yang terjadi sebenarnya dibelakang ini semua namun "kejutan" yang tidak
lucu ini membuat kalang kabut investor yang merasa tidak mendapatkan informasi yang benar
sehubungan dengan kejadian ini. Walaupun sempat di suspend namun keputusan yang
diambil oleh pemerintah untuk mengambil alih bank tersebut sungguh diluar perkiraan banyak
pihak. Rentetan peristiwa yang menimpa emiten-emiten bank tersebut sesungguhnya merupakan
lingkaran persoalan yang berasal dari sebuah krisis yang panjang.