indocapitalinks.jpg (21627 bytes)

Soal Lippo Bank, Bank Duta dan Bank Bali oleh Indra Safitri

 

Perhatian masyarakat saat ini terhadap sejumlah emiten bank yang terkena imbas atau menjadi tokoh utama dari pergulatan politik di Indonesia semakin enak untuk disimak. Lihat saja bagaimana Lippo Bank harus menjadi bagian dari sebuah cerita yang berkaitan dengan kredibilitas dari sebuah sistem perbankan moderen. Trust, merupakan prinsip yang menjadi pilar utama dari sebuah sistem perbankan, sehingga kalau prinisi tersebut dilanggar maka bank tersebut akan segera kiamat, karena kepercayaan yang diberikan oleh pemilik uang agar hak privatnya terlindungi sudah dilanggar. Prinisip inilah yang saat ini sedang dipertaruhkan oleh Lippo Bank bila ternyata benar terdapat kebocoran ataupun rekayasa terhadap rekening miliknya maka kredibilitas sebuah bank yang dapat dipercaya dalam menjamin kerahasiaan nasabahnya menjadi pertanyaan besar. Sebagai bank publik kepercayaan merupakan aset yang bersifat immaterial yang tidak dapat dinilai harganya terutama yang berhubungan dengan usaha perseroan. Terlepas apakah bocornya rahasia tersebut melalui lembaga lain, namun sebagai bank publik hendaknya mereka memberikan penjelasan terhadap persoalan ini.

Nasib serupa nampaknya terkait dengan salah satu bank publik, yaitu Bank Duta namun setelah beredar adanya rekening atas nama Adi Sasono, yang saat ini adalah Menteri Koperasi-namun terdapat bantahan yang menyatakan bahwa rekening tersebut adalah fiktif. Fenomena soal rekening ini menjadi sebuah persoalan yang merusak kredibilitas perbankan di Indonesia, dimana validitas apakah sebuah rekening tersebut memang merupakan rekening asli atau palsu, mengingat banyak faktor yang dapat memanipulasi sumber informasi di negeri ini. Hal ini harus segera dihentikan bila kita tidak ingin kepercayaan atas perbankan di Indonesia akan menjadi lebih terpuruk lagi.

Investor di lantai bursa menjadi panik ketika mereka mengetahui bahwa Bank Bali menjadi Bank Take Over (BTO), ditengah-tengah proses tersebut beredar informasi yang menyebutkan bahwa kegagalan dari masuknya investor asing ke bank tersebut karena tidak ditemukan kesepakatan dalam proses due dilligence. Entah apa yang terjadi sebenarnya dibelakang ini semua namun "kejutan" yang tidak lucu ini membuat kalang kabut investor yang merasa tidak mendapatkan informasi yang benar sehubungan dengan kejadian ini. Walaupun sempat di suspend namun keputusan yang diambil oleh pemerintah untuk mengambil alih bank tersebut sungguh diluar perkiraan banyak pihak. Rentetan peristiwa yang menimpa emiten-emiten bank tersebut sesungguhnya merupakan lingkaran persoalan yang berasal dari sebuah krisis yang panjang.

Perhatian: Komentar dan tanggapan terhadap tulisan diatas dapat disampaikan melalui email : safitri@dnet.net.id atau safitri@safitri.com