Visi Ekonomi Partai Politik
Menjelang pemilihan umum tanggal 7 Juni 1999 yang waktunya semakin dekat
belum terlihat partai-partai politik minus Golkar, tak satupun berbicara tentang sebuah
visi dan format penyelesaian ekonomi yang segera dapat menuntaskan krisis ekonomi
Indonesia untuk jangka pendek dan jangka panjang.Yang agak merisaukan, banyak pergumulan
politis di refleksikan dalam bentuk polemik politik dan manuver-manuver yang sifatnya
tendensius dan bersifat pribadi.Bila ini tidak segera disadari maka potensi partai-partai
yang ingin mendapatkan suara-setidak-tidaknya untuk kalangan menengah atas akan
hilangGolkar, sedikit demi sedikit mampu memainkan beberapa kunci-kunci penting yang
sifatnya secara gradual yang memperlihatkan beberapa indikator penyelesaian
masalah-masalah ekonomi, walaupun tidak bersifat populis namun dapat menggiring pendapat
bahwa kunci-kunci untuk penyelesaian ekonomi pasca pemilu, siapapun yang menang nantinya
harus mau bekerja sama dengan Golkar baik dalam bentuk koloborasi politik maupun secara
individu.
Kita mengetahui bahwa pemerintahan saat ini-adalah pemerintahan yang
dikontrol dan dikendalikan oleh Golkar dan Golkar sendiri sebagai partai politik telah
memformat dirinya sebagai entitas yang baru walaupun dengan orang-orangnya tetap sama,
namun dengan beban historis yang mereka pikul, agaknya mereka tidak akan melakukan total
strategi yang mengandalkan trik dan pola-pola lama yang tidak akan secara efektif mampu
untuk mengelabui rakyat.
Money politics mungkin sudah menjadi cerita lama, namun Politic
creates money merupakan sebuah strategi yang efektif untuk menciptakan pemilih
yang pragmatis dan sekaligus menciptakan bargaining position baik kepada rakyat
agar dapat menerima "maaf" Golkar ataupun menunjukan prestasi kepada unsur-unsur
external, yaitu negara-negara yang memiliki kepentingan baik secara politik maupun
ekonomis. Bank Dunia, IMF dan sederet institusi donor lainnya mereka yang telah akrab
dengan pola dan hubungan institusional maupun pribadi, belum lagi kesibukan negara-negara
besar akibat konflik disemanjung Balkan, membuat perhatian mereka terhadap Indonesia,
tidak akan membuat sikap politik mereka akan seratus persen memberikan dukungan-untuk ikut
campur dan mendukung hati nurani rakyat Indonesia.
Oleh sebab itu, didalam fase-fase ini ada baiknya partai-partai politik
yang memiliki kepentingan besar untuk memenangkan atau yang punya target menggapai
mayoritas suara, sudah harus memulai untuk melakukan sosialisasi visi ekonomi yang
komprehensif serta paralel dengan flatform yang dibentuk dan dirancang oleh
pemerintah saat ini.Bila kita telah melihat dan mendengarkan perdebatan, sebagian dari
calon-calon presiden, maka sudah saatnnya perdebatan ahli-ahli ekonomi dari setiap partai
politik untuk berbicara tentang sebuah visi ekonomi yang relevan dan secara jitu dapat
membuka pandangan masyarakat bahwa roda perekonomian negeri ini masih punya kemungkinan
untuk berputar dan dapat dirasakan secara nyata tanpa perlu menggunakan jargon-jargon yang
tak dimengerti rakyat.
Rakyat Sejahtera
Saya tidak tahu apakah ada partai yang menamakan dirinya Partai Rakyat
Sejahtera, kalau belum nama ini cukup tematis untuk diangkat sebagai slogan yang
mereflesikan sebuah keinginan sebagian besar rakyat kita, yang mendambakan sebuah
kesejahteraan baik sandang maupun pangan. Sejahtera hanya dikala pemilu saja, agaknya
bukanlah keinginan dari setiap warganegara republik ini, biarlah susah dan menderita
sebelum pemilu namun setelah itu akan timbul kesehjahteraan ekonomi-mungkin pilihan ini
yang terbaik. Sehingga visi ekonomi yang semestinya dapat disampaikan oleh para ekonom di
partai-partai politik tersebut dapat memberikan gambaran yang jelas dengan menggunakan
bangunan organisasi negara yang ada saat ini, tentang format dari produk kesejahteraan
tersebut.
Sejauh ini kita mengenal beberapa ekonom yang duduk di jajaran elit
partai politik, misalnya Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, Faisal Basri dan tentunya
sederet ekonom-ekonom yang berasal dari pemerintah saat ini, yang seharusnya memberikan
sebuah perdebatan yang lebih memberikan sebuah gambaran yang dapat dipercaya sebagai
sebuah visi yang tidak sarat dengan muatan politis namun sarat dengan ketajaman konsep
yang realistis sehingga,dapat diterima sebagai sebuah program yang memang mungkin dapat
dilaksanakan.
Sudah saatnya kita tidak melakukan pendekatan penyebaran ekonomi yang
bersifat sentralistik dan tema-tema seperti agaknya harus segera dihapuskan. Salah satu
ketimpangan ekonomi yang dirasakan selama ini adalah soal pincangnya pemerataan
pertumbuhan perekonomian antara di pulau Jawa dan diluar pulau Jawa, padahal exploitasi
kekayaan sumber alam, justru berada di daerah-daerah yang tetasan keringat buminya tidak
membuat mereka merasa sejahtera. Dengan disetujuinya Undang Undang tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah (UU PKPD), dan Undang Undang tentang Pemerintah Daerah, maka
landasan yuridis ini memiliki peranan besar sebagai flatform operasionalisasi
distribusi perekonomian bagi daerah.
Para ekonom partai politik dapat belajar banyak dari berbagai kegagalan
dan penyimpangan yang terjadi didalam setiap program pendistribusian bagi kesejahteraan,
mulai dari soal beras sampai dengan JPS, ini merupakan lampu merah terhadap kredibilitas
institusi-institusi yang bersifat sentralistik, namun pelajaran berharga ini hendaknya
harus di dilihat didalam persfektif yang lebih komprehensif dan jangan kasuistis sebab
akan sulit mendeteksi siapa yang salah programnya atau orangnya.
Sehingga reformasi produk perundang-undangan yang ada saat ini, juga
harus dapat diidentifikasikan sebagai produk yang memiliki keberpihakan untuk melayani
struktur kesejahteraan rakyat, bukan untuk melindungi ataupun melegitimasi kembalinya
kekuatan-keuatan ekonomi yang primordial. Dalam kerangka penerapan produk hukum tersebuat
jangan motifnya positif tapi dijalankan dengan modus operandi negatif.
Hal lain yang sudah selayaknya memiliki efektifitas yang dapat
memberikan jaminan untuk kesejahteraan, langsung dirasakan oleh rakyat adalah soal
danapensiun, terutama danapensiun yang berhubungan erat dengan mayoritas masyarakat.
Bagaimana sebuah konsep pengelolaan danapensiun yang lebih transparan dan profesional dan
dapat memberikan jaminan kesehjahteraan bagi para pensiunan dinegeri ini. Apakah kita
masih memerlukan model danapensiun yang ada selama ini, seperti Jamsostek, Taspen dan
sederat danapensiun lainnya, ketika profesionalisme dan transparansi mereka masih
dipertanyakan.
Masih banyak hal-hal yang harus diagendakan untuk memberikan gambaran
tentang bagaimana setiap ekonom dari partai-partai politik tersebut memiliki ketajaman
visi ekonomi yang terkait untuk mensejahteraan rakyat. Tentunya ketajaman visi setiap
ekonom harus didukung dengan potensi sumber daya manusia yang memiliki integritas dan
kapasitas untuk dapat menguasai dan melakukan pembenahan secara struktural, tanpa harus
masuk dalam daftar orang-orang yang pernah tercela dalam bidang keuangan.
Integritas SDM
Sebagus apapun visi penyelesaian ekonomi partai-partai politik tersebut,
tetapi tidak didukung oleh sumber daya manusia yang telah teruji integritasnya, maka sulit
bagi partai tersebut untuk dapat menjalankan dan menerapkan setiap visi kedalam
operasionalisasi konsep-konsep penyelesaian yang integral dengan tujuan sehingga dapat
mempengaruhi tingkat kesejahteraan ekonomi. Dengan adanya sumber daya yang memiliki
kapasitas untuk menduduki serta menguasai institusi-institusi yang menjadi kunci dalam
pendistribusian keuangan, pengawasan lembaga keuangan, perbankan dan pasar modal,
kemampuan dalam hubungan internasional, dan yang penting tentunya memiliki track record
yang integritasnya tidak perlu dipertanyakan.
Bila kita sepakat untuk dengan skenario hasil pemilu mendatang akan
dihasilkan sebuah pemerintahan yang dikuasai mayoritas bersama partai-partai big five,
seperti PAN, PDI Perjuangan, PKB, PPP dan Golkar maka akan terjadi pengkaplingan dalam
pengelolaan negeri ini, walhasil penentuan tentang siapa yang harus memegang bidang apa
akan berdampak kepada kompetisi untuk dapat melakukan penguasaan terhadap
instrumen-instrumen kelembagaan yang bersifat produktif dalam mengontrol pertumbuhan
ekonomi. Sehingga yang diperlukan nantinya adalah sebuah DPR yang kritis, yang memiliki
fungsi dan kontrol yang sangat kuat dalam memonitor pelaksanaan sebuah program ekonomi
yang disepakati bersama.
Integritas SDM dari ahli-ahli ekonomi partai-partai politik itu sendiri,
tidak hanya orang-orang yang terkenal jujur, namun hendaknya mereka yang memiliki
pemahaman tentang perlunya kepatuhan terhadap norma-norma hukum yang berlaku.Kita
mengetahui bahwa banyak orang-orang yang pintar dalam bidang rekayasa finansial, pintar
dalam restrukturisasi, pintar dalam menundang hutang namun kurang dalam kepatuhan terhadap
norma hukum yang, serta cendrung menepiskan hukum, asal mereka mendapatkan sebuah
pendapatkan ekonomis yang dapat merusak dan menghancurkan bangsa ini.
Jadi merupakan sebuah momentum yang sangat penting bila visi ekonomi
partai-partai politik dapat terlihat sebagai sebuah proses penyembuhan ekonomi yang
berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Sudah saat kita meninggalkan arena perdebatan yang
materinya justru akan membingungkan rakyat pemilih. Dari sosialisasi visi ekonomi ini maka
akan terlihat dengan jelas mana partai politik yang memang memiliki perhatian terhadap
kesejahteraan rakyat dan mana yang hanya menggunakan tema rakyat hanya sekedar retorika
politik demi mendapatkan kekuasaan semata, kita tunggu visinya.
Indra Safitri, Senior Partner di Safitri, Motik & Tim'S